Logo KompasMerayakan Imlek Merayakan Keberagaman

Merayakan Imlek Merayakan Keberagaman

Akhir pekan ini, tepatnya hari Sabtu, 28 Januari 2017, sebagian warga dunia akan merayakan Tahun Baru Imlek 2568. Dimulai sejak tanggal 28 Januari 2017 hingga 15 Februari 2018, warga Tiongkok dan keturunan Tionghoa di seluruh penjuru dunia akan menjalani Tahun Ayam Api.

Elemen Api atau Yin pada Tahun Ayam dipercayai dapat menghadirkan kehangatan dan ketenangan batin di dalam keluarga dan hubungan antarpribadi. Kebetulan, hari-hari ini hubungan antarpribadi, antaranak bangsa dibutuhkan perekat ketika potensi gesekan memuncak akibat perhelatan pemilihan kepala daerah serentak 2017.

Gesekan terkait pilkada di DKI Jakarta bahkan sudah memanas sejak triwulan IV-2016. Energi anak bangsa akhirnya tersedot untuk menanggapi hal-hal terkait dengan kontestasi pilkada di DKI Jakarta, bahkan melupakan adanya pilkada di daerah-daerah lain.

Bahkan, di tataran global, sebagian orang mengaitkan sifat ayam jantan yang angkuh dengan keberadaan sejumlah pemimpin negara yang kini boleh jadi akan mengambil kebijakan yang tegas dan keras. Apalagi, telah menjadi sifat ayam jantan untuk memamerkan kejantanannya.

Dan, demi masa depan dunia, setiap negara sebaiknya menahan diri demi redanya ketegangan antarnegara. Di Tahun Ayam Api lebih baik menghangatkan hubungan antarpribadi daripada memanaskan sebuah hubungan, apalagi membuatnya gosong!

Kompas/Raditya Helabumi
Atraksi barongsai dalam acara perayaan tahun baru Imlek.

Persiapan Tahun Baru Imlek makin hari makin terlihat. Setiap keluarga keturunan Tionghoa berupaya menyambutnya sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing.

Di negeri ini, di Indonesia, selama puluhan tahun—tepatnya di masa Orde Baru—peringatan Imlek tidak boleh dipanggungkan. Kebanyakan warga keturunan Tionghoa tentu saja merayakannya, tetapi tidak secara terbuka.

Setiap keluarga minimal menggelar doa bersama atau makan bersama, tetapi tidak dirayakan secara besar-besaran. Selama Orde Baru, kesenian seperti barongsai seolah dibenamkan. Kesenian itu tabu ditampilkan. Kalaupun tampil, dilakukan diam-diam di halaman tengah rumah-rumah keluarga Tionghoa.

Kompas/Ferganata Indra Riatmoko
Ketua Umum Dewan Syuro PKB Abdurrahman Wahid berbicara pada acara Orasi Catatan Akhir Tahun Gus Dur di Hotel Santika, Jakarta, Minggu (30/12/2007).

Dari sejarah kita tahu, gelombang reformasi yang kemudian membebaskan warga keturunan dari belenggu Orde Baru. Kemudian, lambat laun, peran politik warga Indonesia keturunan pun dibuka lebar-lebar.

Adalah Presiden RI (1999-2001) KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang telah memperbolehkan diperingatinya Imlek. Gus Dur memperbolehkannya setelah mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina.

Presiden Gus Dur pada tahun 2001 telah menetapkan Imlek sebagai hari libur fakultatif. Kemudian pada tahun 2003, giliran Presiden Megawati Soekarnoputri yang menyatakan Imlek sebagai hari libur nasional (Tajuk Rencana Kompas, Sabtu, 6 Februari 2016).

Rangkaian Tradisi Tahun Baru Imlek dari Sin Cia sampai Cap Go Meh

Langkah Presiden Gus Dur dan Presiden Megawati untuk menetapkan hari Imlek sebagai hari libur nasional pun harus dimaknai secara mendalam. Ini bukan sekadar menambah satu hari libur nasional ke dalam penanggalan nasional.

Bukan sekadar memberi kebebasan, tetapi di sisi lain memberikan pula pesan bahwa warga Indonesia keturunan telah menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Tidak kalah penting, dinanti pula kontribusi warga keturunan bagi tumpah darah Indonesia.

Kontribusi untuk Negeri

Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) David Hermanjaya pernah mengatakan, kini sekurang-kurangnya terdapat 30 juta warga keturunan Tionghoa yang dapat dengan bebas merayakan Imlek (Kompas, 3/2/3016).

Pada umumnya mereka telah berkontribusi bagi negeri ini meski dinilai lebih banyak sumbangsihnya dalam bidang ekonomi. Mengapa dalam bidang ekonomi? Ternyata, hukum kolonial Hindia Belanda dulu memang membatasi kegiatan warga keturunan Tionghoa hanya pada bidang perdagangan.

Tidak heran, kondisi tersebut yang menyebabkan mereka lebih terlatih untuk berdagang. Jaringan perdagangan telah mereka bina selama puluhan tahun. Belum lagi, sejak kecil sebagian warga sudah dilatih untuk membantu orangtua mereka berdagang.

Kompas/JB Suratno
Pengacara Yap Thiam Hien pada 1989.

Namun, dalam bidang hukum, misalnya, ada pula warga keturunan yang menonjol. Sebut saja di antaranya Yap Thiam Hien. Yap, cucu Kapitan Yap Hun ini, lahir di Kuta Raja, Aceh, pada 25 Mei 1913. Kakek buyut Yap adalah Yap A Sin, seorang Luitenant yang bermigrasi dari Guangdong, Tiongkok, ke Bangka, sebelum akhirnya pindah ke Aceh.

Yap setelah menuntaskan pendidikan formalnya akhirnya berpraktik secara profesional. Membela berbagai perkara, bahkan juga membela perkara-perkara tertentu saat tidak ada satu advokat pun yang berani menjamahnya.

Yap kemudian dikenal sebagai pembela orang-orang kecil dan tersingkirkan. Dia juga pendiri Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia.

Nama Yap juga akhirnya diabadikan sebagai nama penghargaan bagi orang-orang yang dinilai berjasa besar bagi penegakan hak asasi manusia di Indonesia. Meski telah berpulang pada tahun 1989, nama Yap tetap dikenang baik di dalam Gedung YLBHI di Jalan Diponegoro 74, Jakarta, maupun di luar gedung, dalam setiap diskusi atau sekadar perbincangan.

Di dunia olahraga, Liliyana Natsir, pebulu tangkis ganda campuran Indonesia, juga warga keturunan yang sukses mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional. Bersama Tontowi Ahmad, Liliyana meraih medali emas Olimpiade Rio de Janeiro 2016.

"Dibanding teman-temannya, dia lebih nasionalis meski dia warga Tionghoa"

Perjuangan Liliyana jelas tidak mudah. Sejak usia 12 tahun, Liliyana sudah berpisah dengan ibundanya, Auw Jin Chen, untuk menempuh pelatihan sebagai pebulu tangkis andal di Jakarta. Jin Chen tinggal di Manado sehingga jarak memisahkan mereka berdua cukup jauh. Dulu, nyaris setiap malam Liliyana menangis karena kesepian.

Sebelum Liliyana, di dunia bulu tangkis sudah ada Alan Budikusuma Wiratama atau Goei Ren Fang. Bersama Susy Susanti alias Ong Lien Hiang, yang kini menjadi istrinya, Alan meraih medali emas Olimpiade Barcelona 1992 masing-masing di nomor tunggal putra dan putri.

Pasca Gerakan 30 September dan selama masa Orde Baru, etnis Tionghoa seolah dipojokkan. Apalagi, setelah Kabinet Presidium mengeluarkan Surat Edaran Nomor SE-06/Pres-Kab/6/1967 di mana istilah ”Tionghoa” direduksi menjadi ”Cina”. Implikasinya, orang-orang Tionghoa tidak diakui sebagai salah satu suku bangsa di Indonesia, tetapi seolah orang asing dari daratan China.

Dok Kompas
Soe Hok Gie

Meski minoritas, nyatanya warga keturunan Tionghoa di negeri ini tidak kurang daya kekritisannya. Kita tadi sudah diperkenalkan dengan Yap Thiam Hien. Namun, ada tokoh progresif lain, seperti aktivis mahasiswa era 1966-an, yakni Soe Hok Gie.

Mira Lesmana, produser film Gie, mengatakan, Soe Hok Gie adalah sosok yang penuh kritik sosial yang menggugat ketidakberesan di sekitarnya. ”Dibanding teman-temannya, dia lebih nasionalis meski dia warga Tionghoa,” kata Mira (Kompas, Senin, 1 Agustus 2005).

Soe Hok Gie ketika itu sangat aktif menulis di media massa. ”Dia banyak bicara politik. Tapi kadang dia berbicara di atas politik seperti filsafat,” ujar sutradara film Gie, Riri Riza.

Di era sekarang, bila diamati melalui akun media sosialnya, arsitek Yu Sing juga sangat kritis. Dia kerap mengkritisi kebijakan pemerintah daerah hingga pusat, terutama untuk persoalan permukiman dan perkotaan.

Meski kerap pula dipertanyakan orientasi politiknya oleh para penggiat media sosial, Yu Sing tetap bersikeras bahwa kritik-kritiknya demi rakyat. Dan, dia telah membuktikan kerja-kerjanya dengan mendesain rumah-rumah gratis bagi rakyat umum.

Kompas/Kartono Riyadi
Susi Susanti menangis saat lagu Indonesia Raya berkumandang di Olimpiade Barcelona. Bersama Alan Budikusuma yang kemudian menjadi suaminya, Susi memperembahkan emas bagi Indonesia.

Terjun pula di Politik

Kini telah lazim bagi seorang keturunan Tionghoa untuk menjadi politisi. Sebut saja Alvin Lie maupun Alex Indra Lukman. Arah angin politik memang sudah terbuka lebar, apalagi setelah dulu ada lampu hijau dari Presiden Gus Dur.

Meski demikian, di masa lalu, ada pula warga keturunan yang juga terjun di dunia politik. Sebut saja sosok Harry Tjan Silalahi yang sempat menjadi Sekjen Partai Katolik walau akhirnya memilih mengundurkan diri dan berkiprah di Centre for Strategic and International Studies.

Yang menarik, Harry Tjan kemudian mendapatkan marga Batak meski tidak berdarah Batak. Hal itu setelah dia mengikatkan diri dengan hubungan persaudaraan dengan sahabatnya, Albertus Bolas Silalahi. Nama Silalahi pun disandang Harry Tjan setelah melalui serangkaian upacara adat.

Keterlibatan warga keturunan kini tidak saja pada perpolitikan nasional, tetapi juga lokal. Makin lazim bagi warga Tionghoa untuk menjadi anggota dewan.

Kompas/Hasanuddin Assegaff
Harry Tjan Silalahi

Di Kota Pontianak, misalnya, ada Yandi yang menjadi anggota DPRD dari Partai Gerindra. Di Surabaya, Vincensius Awey juga menjadi anggota DPRD Kota dari Partai Nasdem. Mereka menghibahkan hidupnya untuk mewakili rakyat.

Akan tetapi, di masa Orde Baru, ternyata ada pula warga keturunan Tionghoa yang menjadi anggota dewan. Tahun 1971-1981, di Jawa Barat, seorang bernama Tjie Tek Tjoan menjadi anggota DPRD Provinsi Jawa Barat mewakili Golkar.

Tek Tjoan ketika itu turut blusukan, dan oleh karena profesinya yang juga dosen di Universitas Parahyangan, maka selama menjadi anggota dewan ia berupaya meningkatkan pendidikan di Jabar.

”Tetapi, ada juga yang tidak tahu bahwa Pak Arief itu Tionghoa. Pak Aang Kunaefi, Gubernur Jawa Barat ketika itu (1975-1985), saat baru berkenalan sempat mengira nama Bapak itu Wawan. Karena teman-teman Bapak sering memanggil Pak Arief, ’Tjoan... Tjoan...’, jadi dipikirnya namanya Wawan,” ujar Ny Lanny Sidharta.

Yang menarik, meski berdarah Tionghoa, Tek Tjoan sama sekali tidak bisa berbahasa Mandarin atau dialek lokal Tionghoa mana pun. Dia bahkan tidak tahu leluhurnya dari mana, dan hanya tahu bahwa orangtuanya berasal dari Jawa Tengah.

Setelah mengundurkan diri dari politik, Tek Tjoan menjadi Guru Besar Filsafat Hukum Universitas Parahyangan. Muridnya pun mengenalnya sebagai Profesor Arief Sidharta. Nyaris selama 50 tahun, Arief mendorong terbentuknya Ilmu Hukum Indonesia yang berlandaskan Pancasila.

Bila ditarik ke belakang, kata sejarawan Didi Kwartanada, sebenarnya ada empat tokoh Tionghoa dari 68 anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

”Akan tetapi, sejak tahun 1970-an nama mereka hilang dari buku sejarah nasional hingga kini,” kata Didi Kwartanada (Kompas, Jumat, 5 Februari 2016).

Empat tokoh BPUPKI tersebut adalah Liem Koen Hian, politisi yang pada tahun 1930-an aktif mendorong orang Tionghoa menjadi warga negara Indonesia modern, dan Oei Tiang Tjoei yang aktif di kalangan rakyat jelata.

Kompas/Alif Ichwan
Ahli hukum Prof Arief Sidharta.

Kemudian ada Oei Tjong Haw yang mewakili kelompok pengusaha sekaligus putra mahkota dari keluarga pengusaha Oei Tiong Ham, dan terakhir Tan Eng Hoa.

Jasa Tan Eng Hoa malah cukup besar, yakni menyumbang Pasal 28 UUD 1945 tentang kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengemukakan pendapat. Bila saja Eng Hoa tidak mengusulkan pasal tersebut, belum tentu undang-undang kita saat ini menjamin kebebasan dalam mengemukakan pendapat.

Bahkan, ketika warga negara hanya sekadar berkumpul, maka tiba-tiba negara dapat membubarkannya atas dasar tidak ada konstitusi yang menjamin kebebasan berkumpul.

Tentu saja, Imlek sebaiknya dapat dijadikan kesempatan bagi warga keturunan Tionghoa untuk merenungkan kehadiran mereka di Indonesia. Merenungkan pula sumbangsih bagi negeri ini.

Selama Indonesia tetap berdiri, maka setiap saat pula sumbangsih dan peran aktif warga keturunan masih dinantikan demi kejayaan Indonesia. Sumbangsih itu tidak boleh sekadar berupa materi, tetapi juga berupa sumbangan immaterial. Apa bentuknya? Dapat berupa sumbangsih pemikiran maupun keterlibatan total dalam setiap hubungan antarwarga negara.

Di sisi lain, kemeriahan Imlek juga sebaiknya dapat dijadikan waktu terbaik untuk mengingat kembali tentang keberagaman di Indonesia. Bahwa Indonesia telah dibangun bersama-sama oleh semua golongan dan bagi seluruh warga negara. 恭喜發財 Gong Xi Fa Chai!

Kerabat Kerja

Penulis

Haryo Damardono

Fotografer

Kartono Riyadi
JB Suratno
Hasanuddin Assegaff
Ferganata Indra Riatmoko
Alif Ichwan
Rony Ariyanto Nugroho
Raditya Helabumi

Infografik

Pandu Lazuardy

Desainer & Pengembang

Elga Yuda Pranata
Yosef Yudha Wijaya

Produser

Prasetyo Eko Prihananto
Nasru Alam Azis