Logo Kompas Koreografi Pergelaran Antariksa
Koreografi Pergelaran Antariksa
Rumitnya Persiapan Peluncuran Satelit Telkom 3S

Tujuh detik setelah terdengar seruan ”Lift off!” dari ruang kontrol Jupiter di Bandar Antariksa Jupiter Guyana, semua orang yang ada di Gardu Pandang Toucan tahu apa yang harus dilakukan. Mereka serempak mengarahkan pandangan ke satu titik di ufuk langit kota Kourou, Guyana-Perancis, yang dipenuhi semburat senja.

Saat itulah terlihat bunga api yang menerangi langit. Roket peluncur Ariane 5 yang dilepaskan dari sana memulai usahanya untuk meninggalkan Bumi. Roket pendorong utama bahan bakar di dalamnya berupa oksigen dan hidrogen yang didinginkan sampai angka minus 180 derajat celsius lebih dan menjadi cair. Hasilnya adalah kobaran api yang panasnya mencapai 3.600 derajat celsius dan daya dorong hingga 13.000 kilonewton.

Mencapai orbit geostasioner tidak segampang terbang dalam lintasan lurus, tetapi dengan cara mengorbit lintasan berbentuk elips

Perlahan roket bergerak ke angkasa mengandalkan daya dorong tersebut demi mengangkat beban seberat 780 ton melawan daya gravitasi Bumi. Lima detik pertama adalah suasana hening di Toucan. Mereka yang ada di sana diam terkesiap. Hanya bunyi rentetan rana kamera yang bersahutan mengabadikan peristiwa tersebut.

Hingga kemudian yang diperkirakan terjadi, suara dentuman keras pun terdengar bahkan dari Toucan yang berjarak 5 kilometer dari titik peluncuran. Itulah dentuman sonik (sonic boom) yang dihasilkan dari gelombang kejut karena sumber suara bergerak lebih cepat daripada suaranya. Suara saat roket dan muatannya melaju melebihi kecepatan suara.

Sesudahnya, roket terus terbang mengangkasa menyisakan jejak berupa pilar asap berwarna putih diikuti suara yang menderu yang memekakkan telinga.

Terus pergi menjauh, bunga api akhirnya tidak lagi terlihat oleh mata telanjang sejak dua menit meninggalkan titik peluncuran. Kini, perhatian beralih ke dua layar di dalam gardu pandang. Para penonton yang berasal dari perwakilan perusahaan terkait peluncuran langsung mencari tempat duduk dan menyimak isi layar.

Layar tersebut menampilkan perjalanan roket setelahnya. Terbang ke arah timur, kecepatan dan ketinggiannya terus meningkat. Satu per satu, roket mengalami metamorfosis dengan melepas bagian-bagian sesudah tugasnya rampung, seperti roket pendorong dan penutup roket.

Diawali dengan pelepasan satelit SKYB-1 milik stasiun televisi SKY Brasil seberat 6 ton, tepuk tangan langsung bergemuruh di gazebo.

Saat yang ditunggu-tunggu perwakilan dari Indonesia pun tiba. Satelit Telkom 3S milik PT Telekomunikasi Indonesia berpisah dengan roket peluncur pada ketinggian 3.719 kilometer dan jarak 14.263 kilometer dari titik luncur. Kembali tepuk tangan membahana.

Yang tidak banyak diketahui dari ”pertunjukan” adalah proses panjang dan melelahkan untuk memastikan 40 menit peluncuran tidak berakhir dengan tragedi

Ini berarti satu hal, yakni misi peluncuran VA235 yang membawa satelit SKYB-1 dan Telkom 3S telah diselesaikan dengan sukses oleh Arianespace. Meski demikian, perjalanan belum usai karena satelit masih harus bermanuver untuk mencapai orbit geostasioner di ketinggian sekitar 36.000 kilometer.

Ketinggian tersebut penting karena obyek yang melayang di ketinggian tersebut akan berputar mengikuti perputaran Bumi dengan kecepatan yang sama. Terlalu rendah, satelit berputar lebih cepat dan sebaliknya bila terlalu tinggi. Dengan lokasi yang stasioner, satelit bisa mempertahankan posisinya di atas sebuah negara.

Itulah yang diharapkan oleh Telkom dengan satelit baru mereka nanti. Telkom 3S akan berada di atas Pulau Kalimantan untuk melayani kebutuhan penyiaran dan komunikasi internet pita lebar untuk Indonesia. Sebanyak 42 transponder (transmission and responder) yang dimiliki akan mereka gunakan untuk keperluan menghadirkan daya hubung bagi negara kepulauan ini.

Mencapai orbit geostasioner tidak segampang terbang dalam lintasan lurus, tetapi dengan cara mengorbit lintasan berbentuk elips. Saat berada di titik terjauh atau apogee, roket pendorong yang dimiliki satelit menyala untuk mengoreksi jalur edarnya. Menurut rencana, hal tersebut dilakukan tiga kali hingga jalur edarnya berbentuk bulat dan manuver terakhir dilaksanakan pada 19 Februari.

Project Manager Telkom 3S dari Thales Alenia Space (TAS) Lionel Pelenc mengatakan bahwa fase kedua yang dijalankan adalah pengujian dalam orbit (IOT) dengan membentangkan panel surya dan antena untuk memastikan peralatan berjalan lancar pada 20-25 Februari. Pengujian dilakukan di jalur edar 135,5 derajat Bujur Timur.

”Lantas satelit bergeser 1 derajat tiap hari menuju 118 derajat Bujur Timur,” kata Pelenc.

Pengujian dilakukan untuk memastikan kemampuan transponder milik Telkom 3S bisa melayani standar c-band, extended c-band, dan ku-band. Tugas Thales Alenia Space pun rampung pada 4 April saat kendali kembali diserahkan ke Telkom untuk dikendalikan dari stasiun Bumi di Cibinong, Bogor.

Itulah akhir dari perjalanan satelit menuju angkasa, bak sebuah pergelaran. Telkom 3S diperkirakan memiliki usia pakai hingga 17 tahun. Telkom sudah merencanakan peluncuran satelit Telkom 4 dari Amerika Serikat akhir 2018.

Direktur Utama Telkom Indonesia Alex Janangkih Sinaga menyebut peran penting satelit ini, yaitu untuk memastikan layanan telekomunikasi di Indonesia sepenuhnya ditangani satelit milik sendiri. Mereka mengatakan, sebagian transponder yang dipakai melayani konsumen yang berjumlah 175 juta pelanggan.

Yang tidak banyak diketahui dari ”pertunjukan” adalah proses panjang dan melelahkan untuk memastikan 40 menit peluncuran tidak berakhir dengan tragedi dan pengaturan manuver menuju orbit geostasioner bisa dieksekusi dengan tepat.

Perakitan

Satelit Telkom 3S dibuat oleh Thales Alenia Space, sebuah perusahaan Eropa yang membukukan penjualan sebanyak 2,1 miliar euro pada 2015. Klien mereka beragam, dari perusahaan telekomunikasi hingga militer.

Fasilitas perakitan TAS di Cannes, Perancis, Jumat (10/2), membuka pintunya bagi rombongan dari Telkom untuk melihat dari dekat proses dan prosedur pembuatan satelit. Sayangnya, ada kesepakatan untuk tidak sembarangan mengabadikan isinya untuk mencegah data klien mereka terpapar keluar, baik sengaja maupun tidak.

Dimulai dari pembuatan panel yang menjadi kulit satelit berbahan aluminium dan rongganya berupa lembaran yang disusun layaknya sarang lebah, yakni sisi enam untuk menjamin kekuatan tanpa mengorbankan bobot. Lembaran panel ini lantas dipotong dan dibentuk sesuai desain yang prosesnya dimulai beberapa bulan sebelumnya.

TAS juga memiliki beberapa fasilitas perakitan lain yang terletak di Touluse untuk membuat modul layanan yang tugasnya membantu navigasi dan fungsi avionik. Satu satelit memiliki 16 pendorong yang dipakai untuk bergerak atau memastikan posisi tetap di orbit. Modul tersebut nantinya digabung dengan modul komunikasi yang tujuannya sesuai misi.

Begitu rampung dirakit, satelit menjalani serangkaian pengujian, seperti temperatur minus 180 derajat celsius hingga 180 derajat celsius untuk mengukur ketahanan satelit di kondisi saat tidak terpapar sinar matahari ataupun sebaliknya. Pengujian lain, seperti integritas dari perangkat elektronik, dilakukan untuk memastikan peralatan elektronik satelit berfungsi begitu ada di luar angkasa.

Fungsi satelit menangkap lantas memancarkan kembali sinyal juga diuji secara khusus dalam laboratorium khusus yang memancarkan gelombang elektromagnetik sehingga performa antena dan repeater terlihat. Herald Garcia Lopez del Amo yang mengetuai fasilitas Compact Antena Test Range ini berujar bahwa yang dilakukan fasilitas ini tidak hanya simulasi, tetapi juga mencipta ulang kondisi seperti di luar angkasa.

Begitu rampung pengujian, saatnya satelit dimasukkan kontainer dengan pendingin udara untuk memastikan tidak ada perubahan temperatur. Dimasukkan ke dalam perut pesawat kargo Antonov An-124, kontainer dikirimkam ke lokasi peluncuran, dalam hal ini Arianespace yang terletak di Guyana-Perancis.

”Ada rasa sentimental setiap melihat satelit yang rampung dan dimasukkan ke dalam kontainer. Seperti berpisah dengan anak sendiri,” kata Phillipe Breton, Head of Assembly Integration and Test of Satellite.

Hati - hati

Kesibukan luar biasa terlihat di kompleks Bandar Antariksa Guyana sehari menjelang misi peluncuran VA235 digelar. Deru baling-baling helikopter milik tentara Perancis berseliweran di langit, sementara kendaraan yang membawa anggota tentara berkonvoi mengawal pemindahan roket peluncur setelah integrasi dengan satelit rampung dilakukan.

Proses yang dinamakan rollout ini dimulai sebagai tahap akhir jelang peluncuran setelah satelit tiba dan roket peluncur rampung disusun. Bak membawa pilar setinggi 54,8 meter dan berat 780 ton, pemindahan dilakukan dengan hati-hati.

Terdapat alas roket yang terbuat dari besi dan dijalankan di atas sepasang rel. Alas tersebut berbobot sekitar 700 ton. Berarti total 1.400 ton lebih yang ditarik dari gedung perakitan final atau Batiment d’Assemblage Final (BAF) menuju titik luncur.

Di belakang alas roket masih ada gerbong berisi unit pendukung untuk memasok udara bersih ke dalam ruangan berisi satelit serta menyuplai daya agar peralatan tetap berjalan.

Persiapan panjang itu dilakukan untuk menyambut hari peluncuran sebagai pergelaran yang harus dilakukan secara sempurna tanpa cela

Vice President Arianespace di Guyana-Perancis Bruno Gerard menjelaskan, pasokan udara bersih memastikan kondisi di dalam roket peluncur yang isinya satelit tetap steril hingga sampai angkasa nanti. Tantangan berikutnya yang harus dihindari adalah kelembapan akibat iklim di Kourou.

”Kelembapan bisa menyebabkan karat dan dampaknya terasa saat satelit berada di luar angkasa seperti gangguan saat membentangkan antena ataupun panel surya,” kata Gerard.

Sebelum berada di sana, integrasi roket peluncur dengan badan satelit dilakukan di gedung integrasi atau Battiment d’Integration Lanceur (BIL). Di sana, satelit disatukan dengan roket peluncur dan dipastikan sistem pendingin berfungsi hingga rampung. Hasil akhir berupa roket setinggi 54,8 meter.

Hanya berjarak 4 kilometer, pemindahan roket peluncur berlangsung dengan tegang. Jalanan yang dilalui roket ini ditutup sementara, begitu pula gedung BAF yang dievakuasi seluruhnya menyisakan sembilan orang, yakni sopir truk yang menarik alas roket, pengawasnya, dan tujuh orang yang berada di gerbong untuk memastikan udara dan pasokan daya tetap tersambung ke satelit.

Prosedur keamanan yang mengharuskan evakuasi tersebut karena bahan bakar padat yang ada di roket pendukung bisa membahayakan daerah sekitar bila terjadi ledakan.

Begitu pula saat peluncuran dilakukan, hampir semua orang yang ada di radius tertentu kawasan titik peluncuran diungsikan kecuali bagi 100 orang lebih yang harus memantau dari ruang kontrol peluncuran yang berada dalam radius bahaya dari peluncuran roket. Mereka adalah teknisi yang bekerja di dalam bungker dengan dinding setebal 4 meter dan memiliki sistem udara tersendiri.

Dari ruang kontrol ini, para teknisi memantau segala hal tentang roket dan kesiapannya, dari sistem propulsi, komunikasi, hingga efektivitas peralatan elektronik. Hasilnya dilaporkan ke ruang kontrol Jupiter yang berjarak 15 kilometer dan umumnya diisi para pejabat dan undangan yang menyaksikan peluncuran dari jarak jauh.

Direktur Network, IT and Solutions PT Telkom Abdus Somad Arief sudah hadir di Bandar Antariksa Guyana seminggu lebih dahulu dibandingkan dengan rombongan lain. Setiap hari dihabiskan untuk mengikuti pemeriksaan dan mengulas kesiapan dari pihak Thales Alenia Space selaku pembuat satelit dan Arianespace sebagai pihak yang akan melontarkannya ke luar angkasa.

Telkom juga menugaskan seorang perwakilan yang menjadi penghubung dengan Arianespace selama dua tahun terakhir untuk memastikan prosesnya berjalan lancar. Tidak ketinggalan mengirimkan lima karyawan muda untuk dimagangkan, baik ke Thales Alenia Space untuk belajar desain satelit maupun Arianespace untuk memahami kontrol satelit.

CEO Arianespace Stephane Israel menjelaskan, kehati-hatian adalah prinsip yang mereka pegang sehingga bisa sukses meluncurkan 77 roket Ariane, termasuk yang dilakukan untuk satelit Telkom 3S. Semua dilakukan dengan pemeriksaan berkala dan berulang-ulang untuk memastikan semua parameter mengisyaratkan layak diluncurkan.

”Di ruang kontrol, kami menggabungkan karyawan muda dan senior untuk mendapatkan performa yang baik. Karyawan senior dibutuhkan pengalamannya bila terjadi masalah saat peluncuran, umumnya isu yang pernah dihadapi mirip dengan misi peluncuran sebelumnya,” kata Israel.

Begitu pula pendekatan Arianespace terhadap inovasi. Israel menyebut inovasi sebagai peningkatan atau perbaikan teknologi yang harus dilakukan secara perlahan, bukan terlalu banyak. Setiap inovasi atau hal baru yang diterapkan akan membawa peluang munculnya masalah dan meningkatkan faktor ketidakpastian.

Prinsip tersebut yang melatarbelakangi strategi Arianespace memperkenalkan generasi keenam dari roket peluncur Ariane mereka pada 2020. Roket generasi kelima masih akan digunakan hingga 2023 dengan harapan tiga tahun akan terjadi transisi yang bisa meminimalkan faktor ketidakpastian.

Persiapan panjang itu dilakukan untuk menyambut hari peluncuran sebagai pergelaran yang harus dilakukan secara sempurna tanpa cela. Persiapan yang panjang tidak akan menyisakan ruang bagi kegagalan.

Foto satelit : arianespace.com dan foto bumi : thematicmapping.org
Perakitan

Satelit Telkom 3S dibuat oleh Thales Alenia Space, sebuah perusahaan Eropa yang membukukan penjualan sebanyak 2,1 miliar euro pada 2015. Klien mereka beragam, dari perusahaan telekomunikasi hingga militer.

Fasilitas perakitan TAS di Cannes, Perancis, Jumat (10/2), membuka pintunya bagi rombongan dari Telkom untuk melihat dari dekat proses dan prosedur pembuatan satelit. Sayangnya, ada kesepakatan untuk tidak sembarangan mengabadikan isinya untuk mencegah data klien mereka terpapar keluar, baik sengaja maupun tidak.

Dimulai dari pembuatan panel yang menjadi kulit satelit berbahan aluminium dan rongganya berupa lembaran yang disusun layaknya sarang lebah, yakni sisi enam untuk menjamin kekuatan tanpa mengorbankan bobot. Lembaran panel ini lantas dipotong dan dibentuk sesuai desain yang prosesnya dimulai beberapa bulan sebelumnya.

TAS juga memiliki beberapa fasilitas perakitan lain yang terletak di Touluse untuk membuat modul layanan yang tugasnya membantu navigasi dan fungsi avionik. Satu satelit memiliki 16 pendorong yang dipakai untuk bergerak atau memastikan posisi tetap di orbit. Modul tersebut nantinya digabung dengan modul komunikasi yang tujuannya sesuai misi.

Begitu rampung dirakit, satelit menjalani serangkaian pengujian, seperti temperatur minus 180 derajat celsius hingga 180 derajat celsius untuk mengukur ketahanan satelit di kondisi saat tidak terpapar sinar matahari ataupun sebaliknya. Pengujian lain, seperti integritas dari perangkat elektronik, dilakukan untuk memastikan peralatan elektronik satelit berfungsi begitu ada di luar angkasa.

Fungsi satelit menangkap lantas memancarkan kembali sinyal juga diuji secara khusus dalam laboratorium khusus yang memancarkan gelombang elektromagnetik sehingga performa antena dan repeater terlihat. Herald Garcia Lopez del Amo yang mengetuai fasilitas Compact Antena Test Range ini berujar bahwa yang dilakukan fasilitas ini tidak hanya simulasi, tetapi juga mencipta ulang kondisi seperti di luar angkasa.

Begitu rampung pengujian, saatnya satelit dimasukkan kontainer dengan pendingin udara untuk memastikan tidak ada perubahan temperatur. Dimasukkan ke dalam perut pesawat kargo Antonov An-124, kontainer dikirimkam ke lokasi peluncuran, dalam hal ini Arianespace yang terletak di Guyana-Perancis.

”Ada rasa sentimental setiap melihat satelit yang rampung dan dimasukkan ke dalam kontainer. Seperti berpisah dengan anak sendiri,” kata Phillipe Breton, Head of Assembly Integration and Test of Satellite.

Hati - Hati

Kesibukan luar biasa terlihat di kompleks Bandar Antariksa Guyana sehari menjelang misi peluncuran VA235 digelar. Deru baling-baling helikopter milik tentara Perancis berseliweran di langit, sementara kendaraan yang membawa anggota tentara berkonvoi mengawal pemindahan roket peluncur setelah integrasi dengan satelit rampung dilakukan.

Proses yang dinamakan rollout ini dimulai sebagai tahap akhir jelang peluncuran setelah satelit tiba dan roket peluncur rampung disusun. Bak membawa pilar setinggi 54,8 meter dan berat 780 ton, pemindahan dilakukan dengan hati-hati.

Terdapat alas roket yang terbuat dari besi dan dijalankan di atas sepasang rel. Alas tersebut berbobot sekitar 700 ton. Berarti total 1.400 ton lebih yang ditarik dari gedung perakitan final atau Batiment d’Assemblage Final (BAF) menuju titik luncur.

Di belakang alas roket masih ada gerbong berisi unit pendukung untuk memasok udara bersih ke dalam ruangan berisi satelit serta menyuplai daya agar peralatan tetap berjalan.

Vice President Arianespace di Guyana-Perancis Bruno Gerard menjelaskan, pasokan udara bersih memastikan kondisi di dalam roket peluncur yang isinya satelit tetap steril hingga sampai angkasa nanti. Tantangan berikutnya yang harus dihindari adalah kelembapan akibat iklim di Kourou.

”Kelembapan bisa menyebabkan karat dan dampaknya terasa saat satelit berada di luar angkasa seperti gangguan saat membentangkan antena ataupun panel surya,” kata Gerard.

Sebelum berada di sana, integrasi roket peluncur dengan badan satelit dilakukan di gedung integrasi atau Battiment d’Integration Lanceur (BIL). Di sana, satelit disatukan dengan roket peluncur dan dipastikan sistem pendingin berfungsi hingga rampung. Hasil akhir berupa roket setinggi 54,8 meter.

Hanya berjarak 4 kilometer, pemindahan roket peluncur berlangsung dengan tegang. Jalanan yang dilalui roket ini ditutup sementara, begitu pula gedung BAF yang dievakuasi seluruhnya menyisakan sembilan orang, yakni sopir truk yang menarik alas roket, pengawasnya, dan tujuh orang yang berada di gerbong untuk memastikan udara dan pasokan daya tetap tersambung ke satelit.

Prosedur keamanan yang mengharuskan evakuasi tersebut karena bahan bakar padat yang ada di roket pendukung bisa membahayakan daerah sekitar bila terjadi ledakan.

Begitu pula saat peluncuran dilakukan, hampir semua orang yang ada di radius tertentu kawasan titik peluncuran diungsikan kecuali bagi 100 orang lebih yang harus memantau dari ruang kontrol peluncuran yang berada dalam radius bahaya dari peluncuran roket. Mereka adalah teknisi yang bekerja di dalam bungker dengan dinding setebal 4 meter dan memiliki sistem udara tersendiri.

Dari ruang kontrol ini, para teknisi memantau segala hal tentang roket dan kesiapannya, dari sistem propulsi, komunikasi, hingga efektivitas peralatan elektronik. Hasilnya dilaporkan ke ruang kontrol Jupiter yang berjarak 15 kilometer dan umumnya diisi para pejabat dan undangan yang menyaksikan peluncuran dari jarak jauh.

Direktur Network, IT and Solutions PT Telkom Abdus Somad Arief sudah hadir di Bandar Antariksa Guyana seminggu lebih dahulu dibandingkan dengan rombongan lain. Setiap hari dihabiskan untuk mengikuti pemeriksaan dan mengulas kesiapan dari pihak Thales Alenia Space selaku pembuat satelit dan Arianespace sebagai pihak yang akan melontarkannya ke luar angkasa.

Telkom juga menugaskan seorang perwakilan yang menjadi penghubung dengan Arianespace selama dua tahun terakhir untuk memastikan prosesnya berjalan lancar. Tidak ketinggalan mengirimkan lima karyawan muda untuk dimagangkan, baik ke Thales Alenia Space untuk belajar desain satelit maupun Arianespace untuk memahami kontrol satelit.

CEO Arianespace Stephane Israel menjelaskan, kehati-hatian adalah prinsip yang mereka pegang sehingga bisa sukses meluncurkan 77 roket Ariane, termasuk yang dilakukan untuk satelit Telkom 3S. Semua dilakukan dengan pemeriksaan berkala dan berulang-ulang untuk memastikan semua parameter mengisyaratkan layak diluncurkan.

”Di ruang kontrol, kami menggabungkan karyawan muda dan senior untuk mendapatkan performa yang baik. Karyawan senior dibutuhkan pengalamannya bila terjadi masalah saat peluncuran, umumnya isu yang pernah dihadapi mirip dengan misi peluncuran sebelumnya,” kata Israel.

Begitu pula pendekatan Arianespace terhadap inovasi. Israel menyebut inovasi sebagai peningkatan atau perbaikan teknologi yang harus dilakukan secara perlahan, bukan terlalu banyak. Setiap inovasi atau hal baru yang diterapkan akan membawa peluang munculnya masalah dan meningkatkan faktor ketidakpastian.

Prinsip tersebut yang melatarbelakangi strategi Arianespace memperkenalkan generasi keenam dari roket peluncur Ariane mereka pada 2020. Roket generasi kelima masih akan digunakan hingga 2023 dengan harapan tiga tahun akan terjadi transisi yang bisa meminimalkan faktor ketidakpastian.

Persiapan panjang itu dilakukan untuk menyambut hari peluncuran sebagai pergelaran yang harus dilakukan secara sempurna tanpa cela. Persiapan yang panjang tidak akan menyisakan ruang bagi kegagalan.

Kerabat Kerja

Penulis

Didit Putra Erlangga Rahardjo

Fotografer

Didit Putra Erlangga Rahardjo

Infografik

Novan Nugrahadi

Desainer & Pengembang

Elga Yuda Pranata
Rafni Amanda
Yosef Yudha Wijaya

Produser

Prasetyo Eko Prihananto